3 Sajak Wiji Thukul Yang Terkenal Hingga Sekarang


PERINGATAN

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Wiji Thukul (Solo,1986)

Cerita Pendek Mengenang Dan Merindukan Seorang Wanita [Mengenang dan Merindu] - Salman Faridzi


(1)    Senja Pilu


Melepas kelelahan disenja hari adalah rutinitasku, karena menurutku tak ada lagi yang bisa membuatku setenang diwaktu senja. Tak ada waktu seindah senja untuk meluapkan emosi yang telah kujalani untuk hari-hariku. Aku usap layar ponselku, kuingin melihat foto-foto masa laluku bersama teman-teman yang selalu ada kala itu, masa putih abu-abu. Banyak kenangan manis yang dapat kutayangkan dalam memoriku saat aku melihat foto-foto di ponselku, menyenangkan memang meski hanya melihat dan mengenang beberapa foto masa lalu itu.
Tapi, ada satu foto yang dapat melukiskan kisah lebih luas lagi, yaitu sepasang pelajar yang sedang berdampingan dan mengepalkan tangan dengan dua jari mengangkat, aku dan wanita idamanku. Satu foto seakan menceritakan suatu kisah yang sangat dalam. Ya, dia adalah wanita yang menjadi idaman selama bertahun-tahun. Hanya dari foto itu aku bisa menjabarkan cerita dibaliknya, mengingat kisah pilu didalamnya, mengingat sedikit kebahagiaanku ketika bersamanya.
Memang senja kali ini berbeda. Senja sore ini memaksaku mengingat pada kisah lama yang sangatlah pilu, ketika banyak orang berhasil mendapatkan pasangannya hanya beberapa saat, namun mengapa berbeda denganku yang harus membutuhkan beberapa tahun. Dan hasil dari tahunan aku menunggu adalah nihil, tak ada hasil yang bisa didapat dari sebuah penantian. Jika tuhan berkehendak lain terhadap jodohku, mengapa tuhan membiarkanku mencintainya sampai saat ini, mengapa tak ia hentikan rasa ini dari diriku agar aku berhenti mencintai orang yang salah, senja yang pilu di hari ini. Tapi aku tetap percaya rencana tuhan sangatlah indah.

Kreativitas Dan Perkembangan Zaman [Seni] - Salman Faridzi


KREATIVITAS DAN PERKEMBANGAN ZAMAN


Mengenai Kreativitas, pada jaman ini banyak sekali kreator-kreator muda yang menciptakan karya-karya yang luar biasa dalam bidang seni, seperti Seni Rupa, Seni Kaligrafi, Seni Arsitektur dan masih banyak lagi. Karena di era ini, tak bisa kita menjauhkan seni dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contohnya ketika kalian berada di rumah atau di dalam ruangan tertentu, barang-barang yang kalian lihat atau kalian miliki adalah bentuk dari karya seni, seperti Ukiran, Tembok, Kasur, Pot Bunga dan masih banyak seni yang lain yang pasti kalian miliki.
Namun banyak sekali pandangan menurut hukum-hukum yang membahas mengenai seni, seperti halnya dengan seni rupa dan begitu juga mengenai kesenian lainya seperti musik dan pertunjukan misalnya. Dalam buku “Dari Khazanah Dunia Islam” karya dari seniman sastra indonesia Ali Audah, dituliskannya seperti demikian.


“Dalam hal ini juga tidak sedikit orang mengemukakan argumen-argumen keagama’an yang sifatnya melemahkan kreativitas, sehingga orang yang merasa ragu tidak ingin terjun ke dalam kegiatan ini”
Menurut saya apa yang dituliskan itu realita sa’at ini, dimana kreativitas dilemahkan oleh argumen-argumen tertentu yang sifatnya menganggap bahwa kreativitas ada suatu batas-batas tertentu dalam menjalaninya. Kadang jika aku membahas suatu karya atau seni menyangkut pautkan pada hukum atau agama, itu sedikit berat dan menakutkan, karena sensitifitasnya sangatlah tinggi jika mengenai hukum dan agama. Maka dari itu saya selalu membaca buku-buku karya sastrawan  yang membahas hal serupa dahulu lalu menulis ulang dengan tambahan pendapat yang aku punya.

[Cerpen] Cerita Seorang Pekerja

DIPERKOSA WAKTU


Matahari mulai menampakkan dirinya meskipun teh belum tertuang di gelas yang berada diatas meja. Seakan memaksa para pekerja memerangi jalanan lebih pagi di hari ini. Tertata rapi sudah sepasang pakaian kerja diatas lantai Rusun yang telah disiapkan semalam oleh ibu dengan hati yang penuh dengan kasih sayang, sebelum ia harus pulang dari Rusunku. Melangkah malas untuk mengambil handuk dijemuran yang ala kadarnya lalu pergi ke kamar mandi, hampir setiap pagi seperti ini.
Setelah merapikan diri, mulailah menyalakan kompor untuk menyiapkan segalanya dan berharap agar sarapan berjalan seperti orang pada umumnya. Teh sudah dituangkan, gula yang hanya tinggal beberapa sendok pun sudah kumasukan kedalam gelas dan bercampur dengan teh. Tapi keinginanku untuk sama seperti orang lain segera hancur ketika aku melihat Magic Jar milikku kosong tak ada sebutir pun nasi. Menjalani hari-hari tanpa nasi memang menjengkelkan.
Setiap pagi seperti ini keada’annya, sampai tega menyemangati diriku sendiri “Semangat kerja, semoga ini adalah hariku” itulah yang kulakukan, miris memang tak memiliki pasangan. Setelah mengunci pintu Rusun pun aku masih harus menghadapi kesulitan, menuruni puluhan anak tangga dari lantai 3 menuju lantai dasar, dan itu pula salah satu alasan mengapa orang tuaku  jarang sekali datang ke Rusunku selain karena memang jauh.

Pentingnya Membaca Untuk Mengetahui Sesuatu


Melihat perkembangan membaca di era ini sangatlah tragis, karena sedikitnya peminat pembaca. Padahal banyak yang dapat kita pahami dari membaca, seperti contoh ketika suatu bangsa mengumumkan sejarah bangsanya namun banyak sekali keraguan ketika menerima informasinya, lalu kemana seseorang mendapat informasi dan referensi untuk mengetahui sejarahnya? ya, salah satunya dengan membaca. Kita dapat membaca buku dari berbagai penulis di dunia mengenai sejarah suatu bangsa, dan menyamakan suatu cerita dari masyararaka yang beredar dengan buku yang sedang kalian baca. Ketika kalian tak yakin dengan buku dari penulis yang kalian baca setelah mengeetahui track record penulis yang buruk, kalian bisa mencari buku yang sama atau hampir mirip lalu melihat penulis/pengarangnya yang memiliki track record baik dalam menulis. Seperti misal saya dalam membaca, saya lebih yakin ketika membaca buku dari A dari pada dari B, padahal tulisannya sama-sama membahas tentang Agama, tapi ketika melihat penulisnya berbeda saya memilih penulis yang terkenal dan dapat dipercaya ilmunya, agar tak semakin tersesat dalam mengetahui ilmu.

APA PENTINGNYA MEMBACA?

Tak perlu penjelasan yang berbelit tentang pertanya'an seperti ini, apa pentingnya membaca jelas untuk mencari ilmu karena semua orang tau bahwa ilmu adalah tiang manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tanpa ilmu mungkin banyak orang yang semakin salah mengartikan hidup ini. Ketika kamu memiliki ilmu tentang sesuatu kamu tak akan pernah takut akan sesuatu, misal ketika kamu mencoba bercerita pada seseorang mengenai sejarah bangsa ini, namun lawan bicaramu memilik pendapat yang berbeda tanpa memiliki sumber yang jelas, sedangkan kamu membantah lawan bicaramu dengan penjelasan yang lebih masuk akal dan memiliki sumber dari buku yang pernah kamu baca, nah dengan menjelaskan dengan sumber dari buku yang jelas mungkin dapat membuat lawan bicara menjadi tau tentang suatu sejarah yang jelas. Intinya kamu bisa lebih berani memberi pendapat kepada seseorang siapapun itu denga memberi sumber dari buku untuk memperjelas pendapat kamu.

Menerapkan Nilai-Nilai luhur Untuk Melanjutkan Ekstensi Masyarakat Yang Religius dan Berbudi Pekerti

Tuhan menciptakan telinga, mata dan hati agar digunakan untuk menuntut ilmu pengetahuan, untuk mencerdaskan bangsa, meningkatkan amal-amal baik pada masyarakat dan meninggikan tuhan. Sehingga apa yang kita perbuat dapat dipertanggung jawabkan di sisi tuhan yang esa dan dapat diwariskan pada generasi selanjutnya, agar bisa menerapkan nilai-nilai luhur untuk melanjutkan ekstensi masyarakat yang religius dan berbudi pekerti.
Ekstensi masyarakat yang religius dan berbudi pekerti, dapat dipertahankan jika generasi selanjutnya memiliki ilmu pengetahuan yang dipraktekannya langsung kepada masyarakat sekitar. Tapi kenapa harus ada kata "semua masyarakat mendapat hak yang sama untuk memperoleh pendidikan" sedangkan masih banyak masyarakat kesusahan untuk mendapatkan hak-haknya yaitu mendapat pengetahuan ditempat yang biasa kita sebut sekolah? tak mampu membeli buku untuk membaca? dan masih banyak yang lainnya. Bagaimana bisa generasi ini meneruskan ekstensi masyarakat yang religius dan berbudi pekerti jika akses untuk mendapat pengetahuan pun mereka tak mendapatkannya.

Percayalah, Tuhan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Semua insan bila ingin memiliki perilaku baik dan terhormat harus memiliki ilmu, jangankan dimata manusia, dimata tuhan pun setiap insan juga harus mempunyai ilmu yang diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena ilmu adalah pondasi dunia setiap manusia, seperti diibaratkan bangunan tak berpondasi, sudah pasti akan hancur setinggi dan semewah apapun bangunan itu. Dan manusia tanpa ilmu, tak akan membawanya kepada kemakmuran dan kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dirinya sendiri.

Dan jangan hanya protes karena pendidikan yang tak adil dikalangan masyarakat saja yang kita lakukan, setiap protes ataupun kritik selalu ada solusi didalamnya. Seperti apa solusinya? membantu masyarakat untuk mendapatkan tempat dan ilmu yang layak, membantu mengajarkan hal-hal yang baik tentunya dan juga mengawasi perkembangan anak-anak dalam memilih pergaulan. Jika hanya protes dan kritik saja, lalu apa yang sudah kita lakukan untuk melanjutkan eksistensi masyarakat yang religius dan berbudi pekerti?

Pejuang Subuh [Kehidupan Nocturnal] | PENELISIK MALAM - Salman Faridzi


PENELISIK MALAM
Bercanda dan menelisik malam, mendominasi dan menjelajah malam, bergumam dan menaklukkan malam. Pejuang subuh yang berkawan dengan malam, setiap waktunya yang dipersiapkan hanya untuk malam hari, membuatnya merasa bersalah akan dirinya sendiri. Tapi rasa salah pudar ketika ia telah menjelajahi malam tanpa berfikir esok hari. Merasa bangga dan kuat malam ini seperti kelelawar yang sedang menemukan jati diri. Pejuang subuh selalu berfikir bahwa hari yang dijalani adalah kuasa tuhan, namun ia tak berfikir bahwa tuhan tak menyukai orang yang bahkan waktu pun diremehkan.

Tak seperti mereka, Manusia pada umumnya melawan pagi, mereka menyerah pada pagi. Manusia pada umumnya menyatakan perang dengan pekerja'annya, mereka berdamai pada itu semua. Seperti kata patrick stars "ini adalah hari kebalikan" bagi mereka sang Pejuang Subuh. Disaat semua terbangun ia tertidur, disaat semua tertidur ia malah terbangun. Aneh melihat kebiasa'an seperti ini bagi manusia pada umumnya, namun tak aneh bagi mereka. Mereka beranggapan bahwa dunia tak adil dengan ideologinya, tapi mereka tak sadar bahwa dunia tak membutuhkan ideologi seperti itu.

Hati-Hati Melukai Hati [Baca'an Senja] - Salman Faridzi


BERAPA HATI YANG SUDAH KITA SAKITI

 Sudah berapa hati yang disakiti lisan, tangan dan perbuatan. Kita tak sadar, karena sejatinya semua  memaksa apa yang diinginkan. Berapa hati yang terluka hanya karena satu kalimat yang berantakan? yang merusak jalan insan menuju kebahagia'an, dengan cara yang dia anggap instan. Dan berapa hati yang terluka karena sentuhan berlebihan? menganggap semua berjalan seperti apa yang kita inginkan, dan merasa tak bersalah seakan sudah biasa dan tak perlu dendam. Setiap sentuhan, gerakan dan ucapan harus terjaga agar tak menyakiti hati banyak orang, terutama orang-orang yang kita tuakan. Tak perlu terlalu sopan, hanya saja kita harus elegan. Seperti apa?, melakukannya dengan akal yang "bersifat keseluruhan". Bersifat keseluruhan berarti menggunakan akal yang sebisa mungkin diterima oleh banyak orang. Bukan keinginan individu dan merasa sudah sewajarnya berkelakuan sembarangan.

Buku-Buku Karya Ali Audah [Sebuah Kata]

    Siapa yang tak kenal dengan sosok satu ini ? seorang Sastrawan sekaligus Penerjemah ini banyak dikenal oleh kalangan Pecinta Sastra Indonesia Modern. Ali Audah baru beberapa bulan lalu Meninggal dunia ( Innalillahi wa'inna Illaihiraji'un ) semoga amal ibadah diterima di sisi Allah SWT.
Beliau adalah Sastrawan yang sangat memiliki banyak karya-karya buku karangannya sendiri maupun buku terjemahan yang beliau terjemahkan dari bahasa Arab kedalam Bahasa Indoenesia.

Klik Untuk Membeli Buku Moeka Djakarta [buku photography tentang jakarta]

    Selain menerjemahkan karya sastra dan buku-buku dari penulis terkenal, beliau juga menulis artikel atau kolom mengenai hal terutama mengenai kebudaya'an dan agama di berbagai harian seperti Pedoman, Abadi, Indonesia Raya, Kompas, Sinar Harapan dan berbagai Majalah seperti Kiblat, Gema Islam, Panji Masyarakat, Optimis, TEMPO. Bahkan sebelumnya beliau pernah menjadi penulis tetap di Harian Kami sebagai penulis Cerpen, Esai dan karya terjemahan pada tahun (1966-1973).

KUMPULAN NAMA-NAMA BUKU ALI AUDAH SENDIRI DAN TERJEMAHAN YANG PERNAH DI TERJEMAHKAN OLEH BELIAU

Buku-buku Karya Sastra Asli Ali Audah 

  • Malam Bimbang (Nusantara, Medan, 1961)
  • Icih (Pustaka Jaya, Jakarta, 1972)
  • Novel Jalan Terbuka (Litera, Jakarta, 1971)
  • Ibn Khaldun : Sebuah Pengantar (Studi Biografi)
  • Konkordansi Qur'an (Referensi, 1991)
  • Dari Khazanah Dunia Islam (Ditulis sejak tahun 1955)

Sastrawan Sekaligus Penerjemah Indonesia Ali Audah [Sebuah Kata]

Biografi Ali Audah, Sastrawan Sekaligus Penerjemah

  

    Ali Audah adalah Sastrawan Modern di Indonesia berkelahiran Bondowoso, Jawa Timur pada tanggal 14 Juli 1924. Ali Audah lahir dari keturunan arab, nama ayahnya Salim Audah dan ibunya Aisyah Jubran. Pada saat Ali Audah berusia 7 tahun, ayahnya meninggal dunia. Pada saat itu ke-empat saudara Ali Audah belum ada yang bekerja, dan akhirnya mereka semua dirawat oleh ibunya dengan sabar dan bijaksana.

    Pada saat itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, ibu Ali Audah bersama ke-lima anaknya pindah ke kota Kewedanan. Di sini ibu Ali Audah mencoba membuka usaha Restoran untuk menghidupi keluarganya ini, namun usahanya tak bertahan lama, karena selalu merugi. Pada akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah ke desa industri di dekat surabaya, setelah beberapa lama tinggal di desa itu kehidupan keluarga Ali Audah ditanggung oleh kakaknya yang telah bekerja di perusaha'an tenun.